Monday, July 30, 2007

Ketika Iblis Membentang Sajadah

Siang menjelang zuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu hari Jumaat, saat berkumpulnyaorang. Iblis sudah ada di dalam Masjid. Ia nampakbegitu khusyuk.

Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadiratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, melalui jendela, pintu, ventilation atau masuk melalui lubangpembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masukmelalui telinga, ke dalam saraf mata, ke dalam uratnadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jemaah yang hadir. Iblis juga melekat di setiapsejadah."Hai, Blis!", Kiyai berseru, ketika baru masuk ke Masjid itu.


Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu,Kiyai. Tidak perlu kau melarang saya. Ini hak saya untuk mengganggu setiap orang dalam Masjid ini!",jawab Iblis marah.

"Ini rumah Tuhan, Iblis! Tempat yang suci, kalau kau mahu mengganggu, kau lakukan diluar nanti!", Kiyaicoba mengusir.

"Kiyai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru".

Kiyai termangu.

"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjeratkaummu"

"Dengan apa?" tanya Kiyai.

"Dengan sejadah!" jawab Iblis

"Apa yang dapat kau lakukan dengan sejadah, Blis?"

"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik sahamindustri sejadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruhuntuk bekerja dengan upah yang sedikit, demikeuntungan besar!"

"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai.Tidak ada yang baru, Blis?"
"Bukan itu saja Kiyai*" tukas Iblis.

"Lalu?" Jawab Kiyai.

Iblis menjawab, "Saya juga akan masuk pada setiapdesigner sejadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agarpara designer itu membuat sejadah yang lebar-lebar"

"Untuk apa?" tukas Kiai.

"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasaegois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiyai! Selainitu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisansholat. Dengan sejadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Disitu Saya dapat ikut membentangkan sejadah". jawab Iblis dengan yakin.

Dialog Iblis dan Kiyai terputus seketika.
Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sejadah. Keduanya berdampingan. Salah seorang memiliki sejadahyang lebar. Sementara yang seorang lagi, sejadahnyalebih kecil.

Orang yang punya sejadah lebar tanpa melihat kirikanan terus sahaja membentangkan sejadahnya. Sementara, orang yang mempunyai sejadah lebih kecil,tidak sedap hati jika harus mendesak jemaah lain yangsudah terlebih dahulu datang.

Tanpa berfikir panjang, pemilik sejadah kecilmembentangkan saja sejadahnya, sehingga sebahagian sejadah yang lebar tertutup sepertiganya. Kemudiankeduanya melakukan sholat sunnah.

"Nah, lihat itu Kiyai!", Iblis memulai dialog lagi.

"Yang mana?" Kiyai menjawab.

"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka mempunyai sejadah yang berbeza ukuran. Lihat sekarang,aku akan masuk diantara mereka". Seru Iblis yangkemudian lenyap.

Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiyai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunnah. Kiyai akan melihat kebenaran rencana yangdikatakan Iblis sebelumnya.

Pemilik sejadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi,sambil bangun dari sujud, dia membuka sejadahya yang tertindih, lalu meletakkan sejadahnya di atas sejadah yang kecil.
Hingga sejadah yang kecil kembali berada di bawahnya.
Dia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sejadah yanglebih kecil, melakukan perkara yang serupa.

Dia juga membuka sejadahnya, kerana sejadahnya ditindih oleh sejadah yang lebar.
Keadaan ini berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, padaketika sholat wajib juga, kejadian-kejadian sepertiini beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, daripada menerima di bawah. Di atas sejadah, orang sudah berebut kekuasaanatas lainnya.
Siapa yang memiliki sejadah lebar, maka, ia akanmeletakkan sejadahnya diatas sajadah yang kecil.

Sejadah sudah dijadikan Iblis sebagai perbedaan kelas. Pemilik sejadah lebar, diinde! ntitikan sebagai parapemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atasdari pada yang lain.
Dan pemilik sejadah kecil, adalah kelas bawahan yang setiap saat akan selalu menjadi subordinate dari orang yang berkuasa. Di atas sejadah, Iblis telah mengajariorang supaya selalu menguasai orang lain.

"Astaghfirullahal adziiiim", ujar sang Kiyai perlahan.
Wallahu'alam Bisshawab

(sumber : millist)

No comments: